Posted by: primzone on: September 10, 2009
set ulang mimpi dan jalan hidup yang sempat terbelok setahun kemaren..
menampaki hidup sebagai maba lumayan berat..
tapi sudahlah..
ini jlannya
mungkin ini memeang takdirnya
Posted by: primzone on: Februari 4, 2009
Akhirnya,,,
KHS keluar dengan hasil yg bagus
KRS dah kelar walo dengan perjuangan yg cukup berat…
hari pertama:
1. ke bank di sidoarjo gak bisa online
2. buru kereta malah telah ada 1 jam
3. ke bank di malang antri pake bawa tas baju
4. ketiduran karena kecapekan
5. ke fakultas ngurus dan beres,,,
Hari kedua:
1. ambil KHS di gs
2. ke kaprodi tanya pengalihan dosen PA
3. ke rektorat ambil nomer antrian validasi dapet nomor 42
4. Ngisi konsep KRS n ttd ke dosen PA
5. naek tangga rektorat dari lantai 1 ke lantai 5 karena antrianku dah deket..
6. KRS online + fotokopi
7. Dosen PA, pulang n gak mau tanda tangan
hari ketiga:
1. bangun kesiangan karena badan remuk semua
2. dateng ke kampus tepat waktu tapi dosen PA gak dateng2
3. tiga jam kemudian setelah mambung akhirnya kelar semua,,,
Alhamdulillah…
Posted by: primzone on: Desember 23, 2008
kemarin,
mata itu melihatku dengan penuh kemarahan,,
seakan aku telah melukai hatinya sangat dalam,,,
entahlah ,,,
aku hanya yakin ini yang terbaik,,,
bagaimanapun,,,
aku tak kan bisa menerima mata itu dengan apa adanya dia,,,
aku terlalu lemah untuk dapat menerima kekurangannya,,,
hatiku tidak ada celah untuknya,,,
walaupun dia mencoba masuk pada lorong2 sempit dalam hatiku,,,
tapi jujur aku ketawa terbahak2 semua itu hanya yang kupikirkan,,,
tapi kita tak pernah speak up,,,
jadi itu pandangan dari sisiku saja,,,
entahlah,,,
semoga saja yang kurasakan itu tidak benar,,,
tapi jujur sakit dilihat dengan pandangan seperti itu,,,
aku tidak bisa bersikap biasa,,,
walaupun mungkin kami tidak ada apa-apa,,,
daripada aku yang menderita,,,
mending menjauh aja,,,kan???
tahu agh gelap, mendung lalu hujan,,, hehehe,,,
Posted by: primzone on: Desember 23, 2008
Posted by: primzone on: Desember 23, 2008
Aku sangat mencintaimu Ya Allah,,,
Terimakasih nafas ini masih kau izinkan melewati lubang hidungku,,,
Mengizinkan semua selku bekerja bersatu pada system organ tubuhku,,,
Terimakasih pula,,,
Kau selalu membuka mataku bahwa aku adalah manusia yang paling beruntung di dunia,,,
Aku sangat banyak terimakasih yang tidak akan mungkin bisa kubalas,,,
Kau mengizinkan aku terlahir dari dua orang tua yang sampai saat ini selalu membuatku menangis karena aku begitu bahagia menjadi salah satu anaknya,,,
Aku tak tahu,,,
Mungkin inilah jawabanmu dari seluruh doaku yang meminta agar aku selalu di jalanMu dan di jalan cita kedua ortuku,,,
Setiap detik kau menyapaku bahwa semua yang ku dapat sampai detik ini ,,
Adalah yang terbaik dan terindah…
Aku selalu menangis bila melihat aku jauh lebih beruntung dari pada semua anak yang setiap detik kutemui tapi tidak mendapatkan seperti yang kudapatkan….
Yaitu kasih sayang,,,
Anak-anak itu selalu berusaha mencari perhatian ortunya,,,
Atau bahkan tidak pernah mendapatkannya,,,
Tiap detik kau mengingatkan bahwa bukan materi yang ku butuhkan tiap detik hidupku tapi kasih sayang kedua ortuku,,,
Perhatiannya,,,
Walaupun cuma tatapan yang kurasa begitu berarti setiap kali aku bertemu dengan mereka kembali,,,
Saat ini aku hanya ingin nafas ini Kau jaga selalu hingga aku bisa memberikan citaku untuk mereka…
Mimpi menjadi anak berbakti dan SUKSES…
Jagalah aku Tuhan,,,,
Jauhkan aku dari makhluk-makhluk yang lain yang akan bisa menjauhkanku dariMu dan kedua ortuku.,,,
Ya Tuhanku Engkau tahu bagaiman hambamu yang satu ini,,,
Begitu mudah rapuh,,,
Aku sangat bersyukur kau begitu dekat denganku sekarang,,,
Maka jagalah aku tuk tetap dekat denganMu,,
Hingga aku tetap lurus di jalan ini,,,
Berilah aku kekuatan untuk dapat melewati semua rintangan berat ini,,,
Aku yakin aku permata yang perlu kau poles dengan semua halangan,,,
Aku memang hanya tanah liat
tapi aku yakin Kau menciptakan aku untuk jadi sebuah keramik cantik,,,,
Tuhan tetap jaga aku pada setiap detik hidup,,,
Jaga hatiku hanya untukmu dan kedua ortuku,,,
Terimakasih kau telah memberi kedua ortu yang begitu sangat mengerti aku,,,
Aku malu baru sadar bahwa aku punya sepasang matahari dan bulan yang tiada henti menyinariku dengan cahayanya setiap saat,,,
Jagalah mereka Tuhan,,,
Aku ingin mereka tersenyum ketika cita itu dapat ku wujudkan untuk mereka,.,,,
Aku tidak mungkin menggantikan rasa sakit ibuku saat mengandungku, melahirkanku,,atau terbangun di malam hari ketika ku menangis,,,
Atau aku pun tidak dapat merasakan letih dan capeknya ayahku mencari sesuap nasi tiap detik hidupnya untuk kami,,,,
Jagalah aku Tuhan hingga aku dapat sedikit membalas semua pengorbanan mereka dengan cita yang akan ku wujudkan…
Tuhan aku terlalu malu untuk mengakui air mata ini sebagai tanda sayangku pada mereka…
Tapi aku yakin dirimu tahu,,,
Air mata ini salah satu tanda sayangku pada mereka,,,,
Tuhan aku berterimakasih banyak sekali dan tak terhitung,,,,
Kau selalu mau mendengarkan semua doaku,,,
Bahkan kau selalu setia mendengarkan ceritaku,,,
Sempurna,,,
Aku tak punya kata lain selain itu untukmu….
Maafkan aku sering melupakanmu,,,
Dan hanya mengingatmu saat aku berduka,,,
Tapi tidak lagi,,,
Aku ingin kau selalu dekat,,,
Maka itu jaga aku tetap dekat denganmu,,,
Aku tahu saat ini kaupun jauh klebih dekat dari urat leherku sendiri….
Aku pun tahu malaikat juga sedang mencatat apa yang aku pikirkan…
Tuhan aku inginjadi DOSEN brawijaya,,,4 tahun lagi setelah aku dapat gelar sarjana statistika,,,
Jagalah aku selalu,,
Buang jauh semua pikiran yang tidak pantas aku pikirkan sekarang,,,
Aku tahu kau memang memilih cinta itu datang,,,
Tapi aku tahu itu akan membuatku hancur untuk kesekian kali,,,
Makanya aku ingin membohongi hati nurani atau mungkin membunuhnya untuk sementara,,,
Kau tahu aku begitu rapuh pada hal ini,,,
Atau mungkin kau mengasaku drai sisi ini…
Entahlah hanya kau yang dapat A,,,
Aku hanya dapat F mengenai takdir karena memang kau yang telah menuliskannya,,,
Entahlah setelah aku berdoa secara lisan atau tulis seperti saat ini,,,
Aku selalu merasa kau telah setia mendengarku dan mengangkat beban berat yang sebelumnya,,,
Aku rasa air mata ini juga tidak peenah sia-sia turun,,,
Aku kagum pada kata2 kak rey,,
“Biarkan air mata itu hanya untuk Tuhan”
Kak rey benar,,,
Rasanya memang air mata ini jauh lebih terasa lega bila ku kutumpahkan padaMu dari pada yang lain,,,
Ya Tuhan masih begitu banyak yang ingin ku ceritakan,,,
Tapi seperti mata ini tak lagi menahan kantuk,,,
Aku yakin kau sellau mengingat semua doaku,,,
Jagalah aku tetap di jalanMu dan orangtuaku,,, AMIN.
Posted by: primzone on: Desember 13, 2008
email dari teman….
Sore setelah hujan lebat mengguyur Jakarta. Genangan air dan kemacetan
sudah menjadi menu setelah hujan. Aku duduk sendiri di dalam mikrolet M 01
ke arah pasar senen. Pak sopir masih sabar menunggu penumpang lain.
Kasihan, dalam hatiku. Di depan UI ini hanya ada satu penumpang, yaitu
aku. Kalo mau jujur, rasanya mau turun saja dan ganti bis lain yang lebih
cepat supaya segera sampai rumah. Terlepas dari kemacetan Sudirman dan
Imam Bonjol, kesabaranku kembali di uji oleh mikrolet yang sedang
‘ngetem’.
Sepuluh menit berlalu, namun belum ada penumpang lain yang naik mikrolet
ini. Aku beristighfar berulang kali dalam hati, mencoba untuk tidak kesal
pada pak sopir. Kucoba menumbuhkan rasa iba pada pak sopir lebih besar.
Mungkin, pria setengah baya itu belum dapat uang untuk menutupi setoran
apalagi untuk di bawa pulang kepada anak isteri, dan hari telah senja.
Adzan magrib pasti akan berkumandang tak lama lagi. Itulah yang coba aku
pikirkan. Astaghfirullahal ‘adziim…..
Akhirnya, setelah kurang lebih 15 menit, mikrolet mulai jalan.
Kuperhatikan dari belakang, pak sopir menghela napas berat. Mikrolet
berjalan pelan sekali, seakan pak sopir berharap ada serombongan orang
berlari-lari dari belakang minta di tunggu naik. Salemba – pasar Senen
bisa di tempuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit, tapi dengan mikrolet
‘keong’ ini, mungkin jam setengah tujuh baru tiba. Astagfirullah …..
Sampai di depan masjid ARH UI, seorang lekaki menghentikan mikrolet. Di
samping nya berdiri seorang perempuan berjilbab, membawa tongkat kayu, dan
tas. “Pak, turunkan ibu ini di terminal Senen, ya…” kata laki laki yang
ternyata ojek motor. Segera aku sadar, ibu itu tuna netra. Pakaiannya
kumal. Tas yang dibawanya adalah tas plastik hitam. Ku pegang tangannya
ketika ibu itu naik. Mikrolet melaju kembali.
Di tempat duduk penumpang, si ibu merogoh-rogoh tasnya dan mengeluarkan
kantong plastik yang berisi uang. Dia meraba sehelai uang. “ Ini lima
ribu-an bukan?” tanyanya, yang aku tahu pasti di tujukan padaku. “Bukan
bu, itu seribuan” jawabku. Di ambilnya sehelai lagi..” Ini jadi dua ribu,
ya neng? “ Tanya nya lagi. “ iya bu.” Jawabku. “Ini sudah sampai mana?
Masih jauhkah terminal senen?” tanya nya. “Masih bu, ini baru di
Sentiong.” Jawabku. Lalu ibu itu mengetuk ngetuk atap mikrolet, minta
sopir berhenti. “ Saya turun di sini saja.” Pintanya.
Pak sopir menghentikan mikroletnya sedekat mungkin dengan trotoar. Si ibu
memberikan uang dua ribu kepada pak sopir. Tapi pak sopir menolak. “Simpan
saja, bu” kata pak sopir. Tapi si ibu rupanya tak mau gratisan, dia
tinggalkan uang itu di bangku sebelah sopir. “Mba…tolong kasih uang ini ke
ibu itu.” Pak sopir memintaku turun dan menyerahkan uang itu. Kuselipkan
dalam lipatan tangan ibu itu dan cepat cepat naik ke mikrolet sementara
pak sopir langsung injak pedal gas.
Kini aku sendiri lagi, terminal tak jauh lagi. Sampai depan Universitas
YAI, mikrolet berhenti kembali. Serombongan orang naik ke mikrolet dan tak
tanggung tanggung, mikrolet langsung penuh. Bahkan dua kursi di samping
supir pun terisi. Tak sampai tiga menit, akhirnya aku turun di depan
terminal Senen mengantri dengan penumpang lain untuk bayar.
Kulanjutkan perjalanan dengan mikrolet jurusan lain menuju ke rumah. Dalam
perjalanan, aku merenung. Pak sopir tadi bersedekah kepada ibu Tuna netra,
walaupun ia tidak dalam keadaan lapang. Dan Allah, langsung menggantinya
dengan penumpang penumpang lain yang sampai memenuhi mikrolet. Padahal
jarak YAI dan Senen sangat dekat. Karena hampir setiap hari aku lewat
daerah ini, aku tahu biasanya tak ada lagi penumpang, apalagi jumlah
mikroletnya banyak sekali hingga kadang berjalan beringan. Tapi hari itu
bukan hari biasa bagiku. Allah memberi pelajaran bagi orang yang mau
membuka hati dan pikirannya. Allah membalas sedekah pak sopir kepada ibu
tuna netra tadi TUNAI, saat itu juga. Dan Allah membuatku menyaksikannya
agar semakin tunduk hati ini, semakin yakin akan janji dan jaminan NYA.
Subhanallah
Ku baca sambil menangis,,,
Posted by: primzone on: Desember 13, 2008
“Rudy Habibie dan Rudy Chaerudin, Sukses Mana?”
Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus
menjalani test IQ untuk penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan
IQ tinggi bisa masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa
masuk jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk ke
jurusan Bahasa.
Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan
aturan dari SMA swasta terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang
ber IQ paling tinggi justru ke jurusan Bahasa.
Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya
(Alm) tentang kurikulum sekolah, Beliau mengatakan bahwa pen didikan di
Indonesia masih mewarisi “budaya” kolonial Belanda.
Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang
kecerdasannya tinggi seharusnya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di
masa mendatang akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat,
duta besar, politisi dsb yang hebat2. Tetapi rupanya hal itu tidak dikehendaki
oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang cerdas tidak
memikirkan masalah2 sosial politik. Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga
ahli/scientist, arsitektur, ahli computer, ahli matematika, dokter, dsb yang
asyik dengan science di laboratorium (pokoknya yang nggak membahayakan posisi
penguasa). Saya nggak tahu persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah
Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi
patah semangat karena kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada
hubungannya dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari
sekolah.
Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi
bahkan memimpin parlemen,kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P
& K atau tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb.
Sampai saat ini,masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa
anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol.
Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep anak
tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja
mengadakan seminar anak-anak.
Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo)
menunjukkan 5 Rudy.
- Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang
genius, pintar bikin pesawat dan bisa menjadi presiden.
- Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa
menjadi juara bulu tangkis kelas dunia.
- Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di
TV
- Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid.
kecantikan dan punya byk salon kecantikan di bbrp kota .
- Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan
sering tampil memandu acara memasak di TV.
Sewaktu Kak Seto bertanya “Rudy yang mana yang
paling sukses menurut kalian?” Hampir semua anak menjawab “Rudy Habibie” Sewaktu
ditanyakan “Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?”
Anak-anakpun menjawab “Karena bisa membuat pesawat
terbang, bisa menjadi presiden, dsb” Sewaktu Kak Seto menanyakan “Rudy yang mana
yang paling tidak sukses?” Hampir seluruh anak menjawab “Rudy Choirudin” Ketika
ditanyakan “Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang yang
sukses?”
Anak-anakpun menjawab “Karena Rudy Choirudin hanya
bisa memasak”
Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam
keluarga dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan
orang dari karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang
belum bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal
sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan “enjoy”.
Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ
adalah segala-galanya. Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat
menentukan. Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir
anak-anak (dan juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan orang tua harus
menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.
Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik,
maka kita bisa mencapai kesuksesan di “bidangnya”. Jadi untuk anak-anak yang
tidak pintar matematika, anak2 tidak perlu minder dan orang tua tidak perlu malu
atau menekan anak. Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar dari pada
pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak yang bodoh karena justru anak2 yang punya
imajinasi tinggilah yang pintar menggambar/ melukis. Anak-anak yang suka
ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi politisi atau negotiator
yang baik.
Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk
menuliskan apa yang ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat. *** Mbak
Dwi Setyani juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada kekuatan kita
dari pada “wasting time” bersungut-sungut, hanya memikirkan kelemahan kita.
Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang
penyanyi di Amerika. Penyanyi tsb dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu
cantik dan giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya
supaya giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa
menghasilkan suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang
tonggos itu bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi dengan bebas dan
meng-eksplore suara emasnya. Ternyata orang-orang mengingat penyanyi itu karena
kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.
*** Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap
kita (manusia) dengan maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita
meyakini hal tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan
talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.
Paste from my email groups..
Posted by: primzone on: Desember 13, 2008
PERBEDAAN PERSEPSI
Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya :
- Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
- Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.
Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.
Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.
Jawab anak yang bungsu :
“Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih”.
“Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak”.
Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung :
“Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal
tidak susut”.
“Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup.”
“Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama”.
MORAL CERITA :
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita… pilihan ada di tangan anda.
‘Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa’
Posted by: primzone on: Desember 13, 2008
Connecting to Heaven & Earth Messenger
Sign in….
TUHAN :
Kamu memanggilKu ?
AKU :
Tidak.. Ini siapa?
TUHAN :
Ini TUHAN.
Aku mendengar doamu.
Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU :
Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.
Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk .
TUHAN :
Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
AKU :
Nggak tau ya.
Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru.
Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN :
Benar sekali.
Aktivitas memberimu kesibukan.
Tapi produktivitas memberimu hasil.
Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu..
AKU :
Saya mengerti itu.
Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini..
TUHAN :
Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa
petunjuk.
Di era Internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman
untukmu daripada mimpi misalnya.
AKU :
OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN :
Berhentilah menganalisa hidup.
Jalani saja.
Analisalah yang membuatnya jadi rumit.
AKU :
Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN :
Hari ini adalah Hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
AKU :
Tapi bagaimana mungkin Kita tidak khawatir jika ada begitu banyak
ketidakpastian.
TUHAN :
Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU :
Tapi begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN :
Rasa sakit tidak bisa dihindari,
Tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.
AKU :
Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN :
Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan..
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
Orang baik tidak dapat melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.
AKU :
Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?
TUHAN :
Ya.
Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
AKU :
Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN :
Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan
mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan
rintangan, bukan dari berleha-leha.
AKU :
Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus
melangkah…
TUHAN :
Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu
melangkah.
Lihatlah ke dalam.
Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga..
Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU :
Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.
Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN :
Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada
mengetahui
bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.
AKU :
Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN :
Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu berjalan, daripada masih berapa
jauh kamu harus berjalan.
Selalu hitung yang harus kamu syukuri, jangan hitung apa yang tidak kamu
peroleh.
AKU :
Apa yang menarik dari manusia?
TUHAN :
Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”.
Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku?”
AKU :
Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?
TUHAN :
Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
Ciptakan tujuan itu.
Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
AKU :
Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN :
Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
Peganglah saat ini dengan keyakinan.
Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU :
Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
TUHAN :
Tidak Ada DOA yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
AKU :
Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN :
Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu..
Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.
……….signed out
Goals without TIME LIMIT is NOTHING!
Thanks & Regards,
Posted by: primzone on: Desember 13, 2008
B E R I K A N, D A N L U P A K A N !
Suatu malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Malam itu telepon berdering di rumah seorang dokter. ”Istri saya sakit,” terdengar suara minta pertolongan. ”Dia sangat membutuhkan dokter segera. Si dokter menjawab, ”Dapatkah bapak menjemput saya sekarang ? Mobil saya sedang masuk bengkel.” Mendengar jawaban itu, lelaki tersebut menjadi berang. ”Apa ?!” katanya dengan marah. ”Saya harus pergi menjemput dokter pada malam yang berhujan lebat seperti ini?”
Coba Anda renungkan cerita inspiratif diatas. Kita senantiasa meminta sesuatu kepada orang lain. Sayangnya, kita seringkali lupa untuk memberi. Kita tak sadar bahwa apapun yang kita berikan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, bukan untuk siapa- siapa. Di dunia ini tak ada yang gratis. Segala sesuatu ada harganya. Seperti halnya membeli barang, Anda harus memberi terlebih dahulu sebelum meminta barang tersebut. Kalau Anda seorang penjual, Anda pun harus memberikan pelayanan dan menciptakan produk sebelum meminta imbalan jasa Anda. Inilah konsep ”memberi sebelum meminta” yang sayangnya sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal ”memberi sebelum meminta” adalah sebuah hukum alam. Kalau Anda ingin anak Anda mendengarkan apa yang Anda katakan, Andalah yang harus memulai dengan mendengarkan keluh kesah mereka.
Kalau Anda ingin karyawan atau bawahan Anda bekerja dengan giat, Andalah yang harus memulai dengan memberikan perhatian, dan lingkungan kerja yang kondusif. Kalau Anda ingin disenangi dalam pergaulan, Anda harus memulainya dengan memberikan bantuan dan keperdulian kepada orang lain.
Orang yang tak mau memberi adalah mereka yang senantiasa dihantui perasaan takut miskin. Inilah orang-orang yang ”miskin” dalam arti yang sesungguhnya. Padahal, di dunia ini berlaku hukum kekekalan energi. Kalau Anda memberikan energi positif kepada dunia, energi itu tak akan hilang. Ia pasti kembali kepada Anda.
Persoalannya, banyak orang mengharapkan imbalan perbuatan baiknya langsung dari orang yang ditolongnya. Ini suatu kesalahan.
Dengan melakukan hal itu, Anda justru membuat bantuan tersebut menjadi tak bernilai. Anda mempraktikkan manajemen ”Ada Udang Di Balik Batu.” Anda tak ikhlas dan tak tulus. Ini pasti segera dapat dirasakan oleh orang yang menerima pemberian Anda. Jadi, alih-alih menciptakan kepercayaan pemberian Anda malah akan menghasilkan kecurigaan.
Agar dapat efektif, Anda harus berperilaku seperti sang surya yang memberi tanpa mengharapkan imbalannya. Untuk itu tak cukup memberikan harta saja, Anda juga harus memberikan diri Anda, dari hati Anda yang paling dalam. Jangan pernah memikirkan imbalannya. Anda hanya perlu percaya bahwa apapun yang Anda berikan suatu ketika pasti kembali kepada Anda. Ini merupakan suatu keniscayaan, suatu hukum alam yang sejati.
Sebetulnya semua orang di dunia ini senantiasa memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Namun, kita dapat membedakannya menjadi dua tipe orang. Orang pertama kita sebut sebagai orang yang egois.
Merekalah orang yang selalu meminta tetapi tak pernah memberikan apapun untuk orang lain. Orang ini pasti dibenci dimana pun ia berada.
Jenis orang kedua adalah orang yang juga mementingkan diri sendiri, tetapi dengan cara mementingkan orang lain. Mereka membuat orang lain bahagia agar mereka sendiri menjadi bahagia. Ini sebenarnya juga konsep mementingkan diri sendiri tetapi sudah diperhalus. Kalau Anda selalu memberikan perhatian dan bantuan kepada orang lain, banyak orang yang akan menghormati dan membantu Anda. Kalau demikian, Anda sebenarnya sedang berbuat baik pada diri Anda sendiri.
Bagaimana kalau Anda membaktikan diri Anda untuk menolong anak-anak terlantar dan orang-orang miskin ? Ini pun sebenarnya adalah tindakan ”mementingkan diri sendiri dengan cara mementingkan orang lain.” Anda mungkin tak setuju dan mengatakan, ”Bukankah saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya kan bekerja dengan sukarela” .Memang benar, Anda tidak mendapatkan apa-apa secara materi, tetapi apakah Anda sama sekali tidak mendapatkan apa-apa?
Jangan salah, Anda tetap akan mendapatkan sesuatu yaitu kepuasan batin. Kepuasan batin inilah yang Anda cari. Anda membantu orang lain supaya mendapatkan hal ini.
Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini semuanya adalah untuk kepentingan kita sendiri. Orang-orang yang egois sama sekali tak memahami hal ini. Mereka tak sadar bahwa mereka sedang merusak diri mereka sendiri.
Sementara orang-orang yang baik budinya sadar bahwa kesuksesan dan kebahagiaan baru dapat dicapai kalau kita membuat orang lain senang, menang, dan bahagia. Hanya dengan cara itulah kita akan dapat menikmati kemenangan kita dalam jangka panjang.
Inilah hukum Menang-Menang (win-win) yang berlaku dimana saja, kapan saja dan untuk siapa saja.
Komentar Terakhir